TRADISi KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 3 : Sumatra)

 

TRADISi KURBAN MANUSIA DI NUSANTARA (PART 3 : Sumatra)

September 3, 2012 | Leave a comment

Tradisi kurban manusia di Sumatera

 Di Gomo, Nias, banyak situs megalitikum yang berusia diatas 3000 SM. Daerah situs ini diyakini sebagai tempat leluhur pertama suku Nias. Ada  berbagai benda megalitik disana, salah satunya adalah  batu pancung yang konon digunakan sebagai tempat mengikat tawanan atau orang yang bersalah akibat melakukan kejahatan untuk dipancung. Bila tidak ada orang yang bersalah di daerah tersebut, maka tumbal akan dicari di daerah lain.

Salah satu peninggalan megalitikum Nias

Tradisi inilah yang nampaknya menjadi latar belakang mengapa banyak peperangan terjadi di Nias dulu. Kepala tumbal manusia yang dipancung tersebut bisa digunakan sebagai pilar bangunan. Menurut kepercayaan orang Nias, pilar yang berfondasikan kepala manusia akan lebih kokoh.

Di daratan Sumatera, Tantrisme (sinkretis antara Hindu dan Buddha) berkembang sekitar abad ke 13. Paham ini kemudian terpecah menjadi beberapa aliran, salah satunya adalah aliran Bhirawayang dianut oleh Adityawarman. Bhirawa yang memiliki arti “seram dan mengerikan” , adalah aliran demonic yang menyembah Dewa Heruka. Beberapa menyebutnya sebagai aliran Budha Wajrayana.

Bagian bawah patung Adityawarman

Candi Bahal II

 

 

 

 

 

 

 

 

Candi Bahal II di Padang Lawas, 100 kilometer dari Barus, kota pelabuhan di pantai barat Sumatera, dekat Sibolga, yang pada abad 13 dan 14 juga merupakan pusat kegiatan sufi dan penyebaran agama Islam, diduga merupakan salah satu tempat upacara pemujaan Dewa Heruka. Pemujaan terhadap Dewa Heruka dalam Tantrisme Bhirawa biasa dilakukan pada malam hari di tempat pembakaran mayat.

Mayat dibakar di tempat pembakaran yang disebut ksetra dan dijadikan sajian sebagai persembahan kepada dewa mereka. Unsur utama pemujaan adalah pengurbanan nyawa manusia melalui kobaran api yang mendatangkan bau tersendiri dan bau itulah yang menimbulkan ekstase (secara harfiah berarti “melangkah keluar”, pergi melampaui diri, mengatasi pengalaman normal manusia). Semakin memualkan bau daging manusia terbakar, semakin memberi ‘kenikmatan’. Mereka membandingkan bau tersebut dengan keharuman bunga yang mampu membebaskan seseorang dari inkarnasi baru dan saamsara.

Mayat dari manusia yang dikorbankan diletakkan di tempat pemujaan dengan ditelentangkan, kaki dilipat di bawah paha, tangan terikat dan kepala didongakkan. Dengan demikian, isi perut mudah dikeluarkan. Pendeta membelah perut hingga ke rusuk bawah, lalu duduk di atasnya, merenggut jantung keluar dan memenuhi batok tengkorak manusia dengan darah. Beberapa teguk darah diminum dan dibayangkan sebagai anggur sorgawi yang lezat. Setelah itu, api unggun dinyalakan dan para penuntut aliran tenggelam dalam meditasi. Selama meditasi berlangsung, Heruka terbayang melalui kepulan asap.

Ekstase dicapai saat tengah malam tiba. Pada saat demikian, mereka menari-nari mengitari api unggun dengan ‘kentongan’ yang dibuat dari tulang belulang manusia, sambil tertawa terbahak-bahak dan mendengus-dengus seperti banteng. Makin malam, dipercaya bahwa dewa Heruka akan makin senang memperoleh sesembahan dan korban seperti itu. Upacara berakhir dengan persetubuhan massal.

Menurut Majumdar (1937: 121),  tujuan upacara pembakaran kurban manusia adalah untuk mengajarkan penganutnya bagaimana dengan melalui cara kesaktian dapat kaya, panjang umur, perkasa, tidak mempan senjata tajam, dapat hilang dari pandangan orang, dan dapat mengobati orang sakit; atau dalam bentuk yang lebih sakti lagi, apabila berulang-ulang merapal nama Buddha atau Bodhisattwa dapat mengatasi keadaan yang tidak tenang atau mendapat mukjizat untuk dilahirkan kembali dengan kekuasaan dewa yang dipuja.

Diolah dari :

http://sociopolitica.wordpress.com

Bambang Budi Utomo, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Republik Indonesia.

http://awamisme.wordpress.com/2012/09/03/tradisi-kurban-manusia-di-nusantara-part-3-sulawesi/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s